Salam Sapa :

Tulislah Pengalaman Pahit Diatas Pasir Agar Mudah Terhapus Oleh Arus Gelombang Air Laut, Ukirlah Pengalaman Indah Diatas Batu Agar Abadi. Tidak Lekang Di Musim Kemarau
Dan Tidak Lapuk Di Musim Hujan. Sekuat-kuatnya Daya Ingat Kita Lebih Abadi Kemampuan Tulisan Menyimpan Catatan Menarik. Untuk Itu Ijinkankan aku merangkai tulisan disini.

Selasa, 17 September 2013

SALES POWER LOKOMOTIF KINERJA SALES FORCE

PERAN ACHIEVEMENT DRIVE BAGI SALES FORCE

SEBUAH PERMENUNGAN MENARIK MENCARI TITIK PANAS PENGGERAK KEMAUAN BERPRESTASI DALAM HIDUP MAUPUN PEKERJAAN. BERCERMIN DARI SEBUAH CERITA PERJUANGAN PERGUMULAN HIDUP SEORANG SALESMAN BERSELANCAR DI TENGAH GELOMBANG KEHIDUPAN METROPOLIS.

 

KARYA TULIS : DAUD GINTING.

_________________________________________________________________________________

  •  NAMAKU TAHAN SAGALA

Disuatu kesempatan, Seorang manager penjualan memanggil anak buahnya yang memiliki tugas sebagai salesman bernama Richard ke ruangannya. Richard merupakan salah seorang salesman berprestasi, memiliki latar belakang pendidikan bagus, alumni Fakultas Ekonomi salah satu Universitas Terbaik dalam negeri, dan tiga bulan terakhir merealisasikan penjualan dengan volume "over target". 

Dalam rangka memenuhi rencana perusahaan melakukan ekspansi pasar, Richard dipilih pimpinan sebagai salah seorang bakal calon branch manager salah satu kantor cabang yang segera akan dibuka di salah satu kabupaten yang baru saja dimekarkan. Main product yang akan dipasarkan di daerah tersebut alat-alat kesehatan keperluan rumah sakit.

 Ketika peluang ini disampaikan kepada Richard, jawabannya ternyata diluar dugaan manager penjualan, dengan raut wajah menunjukkan ekspresi gelisah Richard ber-ujar, "Maaf Pak, untuk kali ini ijinkan saya tidak menerima tawaran berharga ini,  karena saya lebih yakin dapat mempertahankan prestasi penjualan saya jika tetap berada di kota ini. Saya sudah familier dengan konsumen disini dan telah membina relasi yang baik dengan mereka"

Mendengar jawaban yang menimbulkan rasa kaget ini, manager penjualan kemudian merespon tanggapan Richard dengan berkata, " Kesempatan hanya datang sekali Pak Richard, anda adalah salah satu karyawan terbaik di perusahaan ini, sehingga kami merencanakan anda mendapat kesempatan pertama dipromosikan menjadi branch manager. Coba kembali kamu pertimbangkan untuk menerima kesempatan ini, saya berikan kesempatan memikirkannya untuk satu hari ini. Besok pagi kita akan bicarakan kembali...!!!".

Dalam pertemuan kedua besok paginya, Ternyata Richard masih memberi jawaban yang sama, dia memegang teguh persepsinya untuk memilih tetap menjadi salesman, tidak menerima kesempatan menjadi manager dengan kalkulasi, tetap menjadi salesman di kota tempat tinggalnya saat ini dianggap lebih memiliki prospek meningkatkan volume penjualan dan sudah tentu memberi kesempatan besar untuk mendapatkan uang lebih banyak dari komisi, insentif dan bonus disamping salary bulanan.

Untuk memecahkan kebekuan, akhirnya manager penjualan memanggil Tahan Sagala untuk menghadap masu ke ruang kerjanya. Kemudian Si Tahan Sagala duduk persis di sebuah kursi yang berada persis di depan meja kerja manager penjualan yang memiliki nama Jan Hui Jack. Sebagaimana biasanya setiap hari jika bertemu dengan semua kalangan, Tahan Sagala duduk dengan posisi rileks menatap pimpinannya dengan raut wajah ceria, bibir terkatup tetapi masih nampak menunjukkan ekespresi senyum. 

Melihat sikap Tahan Sagala yang selalu bersikap ceria, orang akan menyangka bahwa Tahan Sagala merupakan salah satu manusia yang tidak memiliki beban pemikiran berarti, padahal dibalik sikapnya yang agresif dan penuh semangat serta berintonasi tinggi dalam setiap berbicara tersimpan banyak pergumulan hidup yang mesti ditaklukkan dan dicari solusinya. Bahkan untuk kelangsungan hidup sehari-hari dia terpaksa tidak hanya memikirkan uang masuk untuk kebutuhannya sendiri, selain harus membantu biaya kebutuhan pendidikan adik-adiknya, tidak jarang setiap bulan orang tua-nya  juga meminta bantuan dana untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Orang tuanya yang tinggal di suatu desa terpencil di salah satu kabupaten yang berada di ujung Pulau Sumatera bukan kalangan berada sehingga untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Tahan Sagala harus kuliah sambil bekerja. Saat ini dia tengah duduk di Semester Terakhir, mata kuliah sudah lulus semua, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk ujian skripsi. 

Tahan Sagala menjadi Salesman di perusahaan distribusi obat-obatan dan alat-alat kesehatan telah berlangsung selama tiga tahun, dia bukan seorang salesman yang mempunyai track record mapun prestasi penjualan berkategori jelek, dan sebaliknya tidak juga merupakan sales yang memiliki prestasi terbaik, catatan pencapaian volume penjualannya setiap bulan bagaikan grafik naik turun sebagaimana gelombang hidup yang mesti dilaluinya sepanjang perjalanan hidup, pendidikan dan pekerjaannya.

Jan Hui Jack, alumni salah satu Universitas ternama Amerika Serikat negeri-nya Uncle Sam. Latar belakang pendidikan-nya business management, kini menjadi area manager suatu wilayah pemasaran sebuah perusahaan distribusi alat-alat kebutuhan kesehatan. Merupakan salah satu manager berprestasi, selama dibawah kepemimpinannya regio pemasaran perusahaan yang dipimpinnya mengalami perkembangan pesat, hal ini dapat terlihat dari ekspansi wilayah pemasaran dan pembukaan cabang yang dilakukan. Namun untuk kali ini Pak Jack dihadapkan kepada sebuah studi kasus "unik"  yang membutuhkan solusi lain dari lain, alias harus dilakukan dengan cara yang tidak lajim dilakukan para manager umumnya.

Setelah memperoleh jawaban bahwa salah satu karyawan terbaiknya menolak dipromosikan menjadi branch manager kantor cabang baru, kemudian dihadapkan kepada pilihan mengambil keputusan memuat unsur "gambling", spekulatif dan bagaikan sebuah eksprimen. Tahan Sagala merupakan salah satu anak buahnya di devisi penjualan, memiliki loyalitas, tidak memiliki catatan buruk tentang karakter kerja, relatif kecil mangkir kerja tetapi menurut laporan penjualan produktivitasnya tidak stabil, adakalanya berhasil mencapai target bahkan pernah over target tetapi sering juga tidak mencapai target.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Jack harus memilih Tahan Sagala sebagai bakal calon branch manager cabang baru yang segera akan dibuka. Karena paham bahwa Saudara Tahan Sagala tidak memiliki "track record" diatas rata-rata, dia menantang Tahan Sagala melalui pendekatan rada mengandung unsur intimidasi. Untuk mewujudkan rencananya Bapak Jack berkata, " Bapak Tahan, saya akan memberi tugas baru kepada Bapak. Tugas ini tidak boleh ditolak, hanya ada ada dua alternatif pilihan, diterima atau keluar dari perusahaan !!!" Setelah melihat ekspresi wajah Tahan Sagala menunjukkan rasa kaget, dan memandang tajam ke bulatan hitam yang tampak di mata Tahan Sagala, kemudian Jan Hui Jack melanjutkan pembicaraan, berujar tanpa menghiraukan sikap si Tahan : "Ini memang keputusan keras karena perusahaan membutuhkan Bapak Tahan Sagala..!!!". Ternyata Tahan Sagala tidak mampu mengendalikan diri untuk terus berdiam diri mendengar kata-kata yang diucapkan pimpinannya.  Rasa heran dan tanda tanya besar yang berkecamuk dalam benaknya, mendorong Tahan Sagala menyela pembicaraan seiring mengajukan pertanyaan, "Tugas apa rupanya itu Pak ? Aku ini jadi heran, nggak tau apa sebabnya kok tiba-tiba kayak diancam begini !!!"

 

 

 

Banyak metode yang ditawarkan untuk meningkatkan kinerja maupun motivasi kerja salesman, baik bentuk pemberian pelatihan atau training maupun seminar. Diantara materi yang sering disampaikan dalam upaya pengembangan produktivitas salesman, materi "motivasi" merupakan salah satu bahan yang paling sering disampaikan. Manager penjualan maupun Sales Supervisor juga dalam kegiatan sehari-sehari, baik ketika memberi training maupun briefing sering mengutamakan pemberian materi motivasi.


Motivasi dipercayai sebagai salah satu faktor motor penggerak peningkatan kinerja salesman dengan alasan tanpa ada motivasi mustahil seorang salesman bekerja dengan baik, tidak akan memiliki produktivitas dan akan meningkatkan "turn over" atau frekuensi keluar masuk (mengundurkan diri) sales force.

Asumsi ini tidak salah karena sesuai dengan defenisinya, kata motivasi berasal dari kata dasar motif yang memiliki arti "kebutuhan" atau "keinginan" yang muncul di dalam diri seseorang, motif ini menimbulkan stimulus bagi seseorang agar berupaya memenuhinya. Upaya memenuhi kebutuhan yang muncul dari dalam diri seseorang menjadi daya dorong (motivasi) bagi seseorang untuk melakukan sesuatu yang mampu memenuhi keinginan tersebut. 

Berdasarkan prinsif cara gerak motivasi ini maka banyak didesain metode motivasi yang berorientasi kepada upaya memenuhi kebutuhan umum yang muncul dalam diri seseorang. Contoh konkrit yang sering dilakukan, memahami bahwa kebutuhan utama yang ingin dipenuhi oleh manusia adalah kebutuhan fisiologis yang biasanya dapat dipenuhi dengan memiliki uang, maka bentuk alat motivasi yang sering dilakukan berupa kebijakan finansial atau keuangan, misalnya struktur gaji, komisi, insentif, dan bonus yang diberikan dalam bentuk uang. 

Pembuat kebijakan, baik top manajer maupun middle manager beserta sales supervisor meyakini semakin besar jumlah uang bonus maupun insentif yang ditawarkan kepada tenaga penjualan diharapkan mereka akan bergairah dan termotivasi untuk memperolehnya. artinya program atau instrumen motivasi yang diterapkan relevan untuk meningkatkan kinerja maupun produktivitas sales force. Maka pada umumnya perusahaan yang mengandalkan salesman sebagai ujung tombak mendistribusikan produk atau jasa mempergunakan mekanisme seperti ini.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa uang atau materi merupakan salah satu media paling memiliki magnet besar untuk menggerakkan sikap dan tindakan seseorang, bukan berarti dalam hal ini semua orang dikategorikan "materialistik", tetapi karena faktor kebutuhan akan uang yang berfungsi sebagai alat tukar untuk memenuhi maupun memperoleh kebutuhan yang timbul dari dalam diri seseorang. Maka wajar jika uang dijadikan sebagai alat untuk memotivasi seseorang.

Namun jangan lupa bahwa uang bukan merupakan satu-satunya kebutuhan manusia, selain berupaya memenuhi kebutuhan fisiologis (makan, minum, tempat tinggal), manusia juga memiliki kebutuhan rasa aman, interaksi sosial, penghargaan dan aktualisasi diri. Secara hirarkis memang manusia berupaya agar terlebih dahulu memenuhi kebutuhan primer baru kemudian berupaya memenuhi kebutuhan sekunder. Tetapi untuk mendorong seseorang mampu memenuhi kebutuhan yang beragam tersebut dibutuhkan kemampuan (power) maupun achievement drive atau daya dorong keinginan untuk berprestasi maupun keinginan untuk menyuumbangkan sesuatu yang terbaik dari dalam dirinya sebagai salah satu cara menunjukkan eksistensi maupun harga dirinya sebagai seorang manusia berprestasi. 
 
Kompleksnya jenis kebutuhan manusia ini menjadi acuan bahwa tidak cukup hanya mempergunakan satu bentuk alat motivasi untuk dipergunakan untuk semua orang dalam rangka memotivasi anak buah dan meningkatkan kinerja team kerja maupun individu.Manusia itu memang unik, masing-masing memiliki perbedaan satu sama lain, tidak dapat menerapkan satu cara untuk melakukan pendekatan terhadap manusia yang secara eksistensial memang berbeda-beda, manusia hanya dapat dikelompokkan dalam satu kategori berdasarkan kemiripan yang ada diantara mereka, misalnya sikap, kerangka berpikir (frame of thinking) maupun tindakan.


POLITICS MARKETING

TINJAUAN MENARIK PENERAPAN MARKETING DALAM POLITIK

TREND "MARKETING POLITICS" SEBAGAI STRATEGI KAMPANYE DAN PERANAN LEMBAGA MARKETING CONSULTANT MEMBANGUN AWAERNESS PARPOL SERTA KANDIDAT DALAM PEMILIHAN UMUM

__________________________________________________


Berbicara tentang “Marketing”, asosiasi yang timbul dalam benak seseorang adalah ilmu pemasaran di Fakultas Ekonomi, atau sebuah fungsi didalam perusahaan. Persepsi ini tidak ada salahnya karena marketing erat kaitannya dengan fungsi sebuah perusahaan untuk mendistribusikan produk atau jasa maupun untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Marketing merupakan salah satu mata kuliah dalam jurusan bisnis maupun manajemen.
Namun dalam atmosfir kehidupan politik modern dewasa ini, marketing juga sudah dipergunakan sebagai salah satu metode atau strategi memenangkan kompetisi pemilihan umum, baik pilkada, pilgub mauun pilpres, sehingga muncul cabang ilmu terapan “POLITICS MARKETING” dalam dunia politik  Penerapan thesis-thesis ilmu marketing dalam strategi memenangkan pemilu memang merupakan salah satu pilihan alternatif karena pada essensinya kedua bidang, bisnis dan politik, berorientasi kepada upaya mempengaruhi sikap dan tindakan masyarakat sebagai konstituen – dalam bisnis disebut konsumen – agar berkenan menerima (demand) apa yang diatawarkan (suplay) oleh partai politik (kandidat) – dalam bisnis disebut dengan supplier atau perusahaan.
Dalam konteks politics marketing, dipergunakan hukum penawaran dan permintaan untuk mencari titik ekuileberium sebagaimana teori ilmu ekonomi mikro, sehingga dikemas program bauran pemasaran (marketing mix) sebagai taktik dan strategi memperoleh simpati, dukungan dan kehendak memilih (voting) dari calon konstituen. Dengan mempergunakan politics marketing para pokitisi dalam hal ini merasa tidak cukup lagi hanya mengandalkan cara-cara konvensional seperti mengandalkan  loyalitas ideologi ataupun aliran politik, tetapi dipandang perlu melakukan manajemen pemasaran yang lebih modern dengan mempergunakan media campaign modern. Kampanye dilakukan tidak hanya mengandalkan karisma tokoh, kepemimpinan politik, atau militansi visi, dan didukung melalui desain media kampanye pencitraan. 
Marketing politik mendesain program kampanye ter-integrasi, dibangun citra pigur kandidat, visi dan misi dikemas apik dan menarik mempergunakan media campaign up to date. Kerja-kerja politik tidak lagi hanya mengandalkan mesin organisasi partai atau kader tetapi mempergunakan lembaga-lembaga professional di bidang media campaign.
Untuk memahami lebih jauh politics marketing, diperlukan pemahaman terhadap “politik” dan “marketing”. Secara sederhana, politik merupakan aktivitas sosial yang berupaya merebut dan distribusi, dalam hal ini menempatkan masyarakat sebagai objek dan subjek perlakuan. Melalui “marketing politik” proses interaksi politik dibagi menjadi dua posisi yaitu “produsen” dan “konsumen”. Pihak yang berkepentingan terhadap perebutan dan distribusi kekuasaan, partai politik, kader atau kandidat dipandang sebagai produsen, sedangkan masyarakat dipandang sebagai pangsa pasar yang dianggap memiliki potensi memilih atau memberikan suara (suspect) diletakkan dalam kedudukan sebagai calon konsumen.
Masyarakat modern secara kuantitatif, demografi dan psikografi sangat plural, educated, kritis dan otonom serta sangat rasional menentukan pilihan maka dibutuhkan strategi marketing yang dianggap mampu menggeser persepsi dan perilaku memilih. Untuk bisa mempengaruhi masyarakat modern seperti ini tidak cukup hanya mengandalkan cara-cara konvensional yang mempergunakan cara kedekatan ideologis, sentiment primordial agama, suku dan ras.
Dalam proses mempengaruhi masyarakat ini, masyarakat sebagai calon konstituen tidak bisa lagi dianggap hanya sebagai objek, tetapi harus menjadi kedua-duanya, yaitu selain sebagai objek sekaligus sebagai subjek, masyarakat modern tidak bisa dipaksa melakukan pilihan seperti mobilisasi massa dan intimidasi  tetapi harus melalu persuasi dan edukasi.

MELIHAT PROFESI SALESMAN DENGAN KACAMATA JERNIH

SEBUAH CATATAN  AKUMULASI PENGALAMAN

SALESMAN PROFESI MENARIK SERTA MENJANJIKAN BAGI PEMBERDAYAAN MAN POWER DAN INCOME DITENGAH KOMPETISI MENUJU MASYARAKAT METROPOLIS

 ___________________________________

"Mengenakan julukan "Antara Benci dan Rindu" terhadap profesi salesman sebenarnya tidak terlalu berlebihan, karena banyak pihak memandang profesi salesman dengan kacamata yang salah. Disatu sisi ada orang yang menghindari profesi ini, sementara di pihak lain banyak institusi sangat mengandalkan sales force sebagai motor penggerak mencapai target organisasinya".

Profesi Salesman bukan merupakan hal yang asing bagi sebagian besar masyarakat. Masyarakat sudah terbiasa berhadapan dengan salesman terutama ketika melakukan interaksi jual beli. Ketenaran nama atau sebutan "Salesman" sebagai sebuah profesi tidak ternyata tidak setenar panggilannya. Ironisnya profesi ini sering dihindari para pencari kerja karena dianggap tidak memiliki prestisius, bahkan sering dipandang sebelah mata.

Jika disodorkan Quisioner Survey atau pertanyaan, responden diminta menjawab dengan jujur, pada umumnya setiap orang akan menjawab tidak pernah memiliki cita-cita menjadi seorang "Salesman".  Fenomena ini bukan merupakan hal aneh karena sejak duduk di bangku sekolah setiap orang memiliki obsesi menjadi pegawai atau karyawan kantoran seperti, manager, dokter, guru, polisi, setidaknya pekerjaan yang duduk di belakang meja.

Sebelum berbicara lebih jauh tentang profesi salesman, persepsi minus ini harus di entaskan terlebih dahulu sebelum mempresentasikan peluang menarik menekuni pekerjaan sebagai salesman. Terutama dalam hal melakukan recruitment, langkah pertama yang ideal dilakukan adalah menggeser cara berpikir (mindset) atau persepsi yang salah tentang profesi sebagai salesman.


PANDANGAN MINUS ATAS PROFESI SALESMAN


Pandangan minus terhadap profesi sebagai salesman pertama harus dilihat dari persepsi yang muncul dalam diri (inside out) seorang bakal calon salesman, kedua persepsi yang muncul dari luar diri seseorang. 

Banyak masyarakat memiliki cara pandang yang salah terhadap profesi salesman. Dalam konteks ini berlaku perumpamaan "Tidak Kenal Maka Tidak Sayang", artinya orang yang memiliki persepsi negatif dan salah terhadap profesi salesman karena mereka memang tidak paham persis apa dan bagaimana fungsi, tugas dan peluang yang diperoleh seorang salesman. Mereka hanya melihat sisi luar yang nampak dengan mempergunakan kaca mata yang salah, artinya cara pandang mereka salah dalam memahami salesman.

Hal ini tidak dapat disalahkan tanpa reserve, oleh karena itu untuk memperbaiki alur pemikiran negatif harus dilakukan melalui proses memberi kesempatan mempelajari atau memperoleh informasi yang tepat tentang profesis salesman yang sesungguhnya. Cara pandang salah seperti ini juga banyak dianut oleh para bakal calon salesman sehingga mempengaruhi minat dan keseriusannya memilih profesi ini.

Memang banyak pengalaman buruk yang pernah diterima masyarakat dari perlakuan salesman tidak profesional, baik itu yang merugikan calon konsumen maupun berupa tindakan tipu daya yang merugikan. Namun kesalahan sebagian kecil salesman tidak bertanggungjawab ini bukan berarti menjadi konklusi umum bahwa semua salesman itu memiliki sifat buruk.

Seorang salesman yang berhasil sangat tergantung pada banyakny atau kuantitas relasi yang dibinanya, semakin banyak orang menjadi mitra salesman maka semakin tinggi probabilitas calon konsumen yang bisa diperoleh seorang salesman, sehingga semakin tinggi kemungkinan dia melakukan closing order atau mencapai target penjualan. Bagi salesman yang ingin sukses menekuni profesinya harus menjadikan semua orang (suspect) sebagai asset yang harus di prospecting. Semakin banyak suspect yang dimilikinya maka semakin besar kemungkinan dia memperoleh order penjualan. Maka merupakan kesalahan fatal jika ada seorang salesman mengecewakan calon konsumennya, tindakan seperti itu sama artinya menutup pintu kemungkinan memperoleh order penjualan.

Tindakan mengecewakan calon konsumen merupakan dosa besar bagi seorang salesman karena tidak mampu membina kesinambungan relasi antara calon pembeli dan penjual. Maka tindakan tidak terpuji yang dilakukan seorang salesman merupakan benalu yang merusak citra salesman itu sendiri dan perusahaan yang memberi kepercayaan. Sadar akan pentingnya arti calon konsumen bagi kelangsungan hidup perusahaan maka mustahil sebuah perusahaan penjualan membiarkan salesman sebagai ujung tombak industrinya melakukan penipuan terhadap calon konsumen.

Tidakan tidak terpuji salesman terhadap calon konsumen merupakan penyimpangan moral yang timbul dalam diri salesman itu sendiri, dan perusahaan yang mengetahui tindakan salesman seperti ini akan memutuskan hubungan kerja. Karena selain merugikan citra perusahaan, salesman tersebut juga akan menjadi beban perusahaan.

Fenomena lain yang membuat profesi salesman tidak menarik dimata masyarakat, adalah karena faktor gengsi atau life style. Banyak orang beranggapan bahwa salesman merupakan jabatan terendah dalam sebuah perusahaan dan tidak menjanjikan untuk peningkatan status sosial dan ekonomi. Pandangan seperti ini sangat salah besar, karena dalam struktur organisasi perusahaan pemasaran salesman memiliki peranan penting dan strategis, yaitu menjadi ujung tombak perusahaan mendistribusikan produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan, bahkan salesman merupakan profit centre bagi perusahaan pemasaran. Tanpa mereka tidak akan sampai sebuah produk ke tangan konsumen dan tidak akan terjadi proses penjualan yang menimbulkan margin keuntungan bagi perusahaan. Oleh karena itu perusahaan sangat memiliki kepentingan terhadap keberadaan salesman dan akan selalu berupaya melakukan pemberdayaan, maintenance dan memperkecil tingkat turn over salesman.

Pada umumnya perusahaan yang telah profesional mendesain banyak kebijakan marketing dan struktur penghasilan berupa gaji, komisi, insentif dan bonus bagi salesman sebagai cara untuk mempertahankan dan memberi motivasi. Karena banyaknya kebijakan yang memberi kesempatan memperoleh uang bagi salesman, secara finansial seorang salesman tidak terbatas sumber penghasilannya, bahkan salesman yang memiliki produktivitas tinggi adakalanya memperoleh penghasilan uang lebih besar dari karyawan yang duduk di belakang meja, bahkan sering mengalahkan penghasilan supervisor atau manager yang secara organisasi merupakan atasan seorang salesman. Dari sisi tingkat pendapatan atau uang masuk, seorang salesman tidak terbatas, karena secara prinsif kerja seorang salesman dalam sebuah perusahaan tidak ubahnya bagaikan seorang wirausahawan (entrepreneur) tanpa menyediakan modal.  Jika uang sebagai motivasi utama dalam bekerja bagi seseorang maka memilih menjadi seorang salesman merupakan tindakan yang tepat. Demikian juga haknya jika masih ada masyarakat yang beranggapan bahwa profesi saleman tidak memiliki prospek atau masa depan yang bagus maka persepsi itu salah total.

Berbicara tentang prospek kemajuan karir atau peningkatan jabatan dalam sebuah perusahaan, justru pekerjaan sebagai salesman yang memiliki peluang paling jelas, terukur dan terbuka kesempatan yang luas. Dibandingkan dengan karyawan yang lain, produktivitas atau kinerja seorang salesman dapat diukur secara kuantitatif, dan dapat dilihat secara kasat mata, karena kinerja seorang salesman dilihat dari jumlah penjualan yang dilakukan serta prestasi yang diperolehnya mencapai target penjualan. Sedangkan karyawan lain prestasi kerjanya adakalanya hanya dapat diukur secara kualitas sehingga sering memperoleh nilai yang bias. Sudah merupakan tradisi di dalam perusahaan pemasaran bahwa seorang salesman berprestasi akan mendapat kesempatan promosi jabatan menjadi supervisor penjualan, kemudian terbuka kesempatan untuk naik jabatan menjadi manager atau kepala cabang, bahkan tidak tertutup kemungkinan suatu ketika akan memperoleh kesempatan menjadi top management.

Bukan merupakan rahasia lagi bahwa perusahaan yang memiliki team penjualan (sales force) dan mengandalkan salesman sebagai ujung tombak mendistribusikan produk atau jasa sebagai sumber cash in flow perusahaan pada umumnya mengutamakan karyawan yang meniti karir dari jenjang salesman sebagai cikal bakal pimpinan dalam organisasi perusahaan tersebut, selain karena faktor kinerja yang dengan mudah dapat diukur secara kuantitatif, para salesman dianggap telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni tentang peta sumber penjualan perusahaan, dan salesman telah teruji dalam sisi daya juang (achievement drive). 
 

Senin, 16 September 2013

NEW MIDDLE CLASS MASYARAKAT INDONESIA DALAM PERSPEKTIF MARKETING DAN POLITIK. PARTAI DAN PRESIDEN PILIHAN MEREKA

BERKAH PERTUMBUHAN KELAS MENENGAH

DINAMIKA STYLE OF LIFE & POTENSI PELUANG MENARIK

___________________________________________________

Karena masyarakat memiliki struktur sosial plural dan majemuk maka dibutuhkan pengelompokan masyarakat berdasarkan golongan atau klasifikasi tertentu. Dalam ilmu sosial sering diberi istilah “KELAS SOSIAL”.  Memang penyebutan “kelas” terhadap struktur masyarakat sering menimbulkan kontraversi, karena setiap kali berbicara tentang penetapan kelas, sering muncul asosiasi negatif tentang trauma pertentangan kelas di masyarakat, hal ini terutama dipengaruhi oleh sikap paranoid terhadap teori marxisme. Padahal klasifikasi masyarakat banyak dibutuhkan untuk kepentingan menentukan segmen pasar bagi dunia pemasaran, dan menentukan kelompok masyarakat sebagai basis massa bagi partai politik.



Tidak dapat dihindari, untuk tujuan pengelompokan masyarakat sebagai objek penelitian, statistik maupun pengetahuan dibutuhkan penetapan kelas sosial sebagai variable pendataan. Untuk bahan penelitian kuantitatif hal ini kecil kemungkinan dihindarkan, sedangkan untuk disiplin ilmu yang lain, baik ilmu murni maupun ilmu terapan tetap memerlukan tindakan klasifikasi, misalnya untuk ilmu marketing klasifikasi masyarakat diperlukan sebagai dasar menentukan sasaran penjualan (targeting) maupun untuk tujuan Segmentation. Untuk kepentingan strategi politik praktis juga dibutuhkan analisa kelas sosial masyarakat sebagai sarana menentukan konstituen mana menjadi sasaran untuk digarap dalam upaya memperoleh suara pemilih (Voter).


Mencermati hasil sensus penduduk Indonesia 2010, maupun membandingkan data penduduk dari tahun ke tahun, jumlah pertambahan penduduk Indonesia sangat besar. Realita ini merupakan peluang besar sebagai pangsa pasar bagi perusahaan bisnis, dan merupakan calon pemilih (konstituen) potensial bagi partai politik. Catatan menarik yang dapat dipetik dari mencermati struktur masyarakat Indonesia, secara kuantitatif masyarakat Indonesia dewasa ini didominasi oleh kelompok “Kelas Menengah”

Karl Marx (1867), menggolongkan masyarakat  dalam dua kelas, yaitu  majikan (kaum borjuis)  yang menguasai alat produksi, keuangan, lahan, dan teknologi produksi. Namun dialektika ini menimbulkan pertanyan, dimana kalangan professional  berada, terutama diantara kepentingan buruh dan majikan. Metode ini juga sering dipandang sarat dengan nilai-nilai perjuangan antar kelas di masyarakat.

Max Weber (1920), memandang persoalan kelas bukan hanya bagaimana kekuasaan atas alat produksi terletak, tetapi menyangkut derajat ekonomi dan prestise. Seseorang bisa saja berpenghasilan besar dan memiliki usaha dengan karyawan banyak. Namun, karena pendidikannya rendah, ia belum tentu masuk ke kelas atas. Sebaliknya, penyair atau sastrawan bisa masuk kelas menengah karena derajat pengetahuannya, meskipun ekonominya morat-marit dan tidak menguasai alat produksi kapitalistik.
 
Asia Development Bank (ADB). (2010), mematok yang dikategorikan sebagai  kelas menengah adalah mayarakat yang memiliki rentang pengeluaran perkapita sebesar 2 dollar AS hingga 20 dollar AS per-hari. Sedangkan Bank Dunia menetapak golongan masyarakat kelas menengah adalah masyarakat yang memiliki pengeluaran 4  dollarAS hingga 10 dollar AS per-hari.


Lester Thurow. (1987) mendefiniskan dan menetapkan kelas menengah berdasarkan tingkat penghasilan masyarakat di Amerika. Disebut sebagai  kelompok menengah  apabila masyarakat memiliki pendapatan (income) dalam rentang antara 75% dan 125% dari titik tengah (median) pendapatan perkapita.

Banerjee dan Duflo. (2008), mendefenisikan kelas menengah berdasarkan dua alternatif, yaitu, dilihat dari pendapatan perkapita per hari  antara 2 dollar AS hingga 4 dollar AS  dan antara 6 dollar AS hingga 10 dollar AS.
W Lloyd Warner, ahli antropologi dan sosiologi dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, pada tahun 1949 mengemukakan acuan prosedur  pengukuran status sosial berdasarkan derajat pekerjaan, pendapatan, kualitas rumah, dan area tempat tinggal, dan  AB Hollingshead (1971) juga mengemukakan cara klasifikasi lebih sederhana dengan menggunakan ukuran pekerjaan dan pendidikan untuk membentuk stratifikasi kelas atas, menengah atas, menengah, menengah bawah, dan bawah.

Temuan John Goldthorpe  merupakan salah satu alat analisis yang paling luas dipergunakan dalam berbagai penelitian, termasuk penelitian komparasi kelas menengah.. Ia mendasarkan pemilahan sosial atas dasar pekerjaan, yang pada intinya membagi klasifikasi masyarakat dalam bentuk tiga kelompok besar masyarakat , kelas atas, menengah, dan pekerja.

Umumnya metode yang paling sering diergunakan dewasa ini adalah membuat stratifikasi sosial berdasarkan pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan  pengeluaran, dan mempergunakan kriteria penggolongan pengeluaran mengikuti standar  Bank Dunia. Pengeluaran per hari di bawah 2 dollar AS digolongkan sebagai kelas miskin  (Kelas Paling Bawah atau Miskin),  pengeluaran dari 2 dollar AS hingga 4 dollar AS kelas bawah, pengeluaran dari 4 dollar AS hingga 10 dollar AS kelas menengah, pengeluaran dari 10 dollar AS hingga 20 dollar AS kelas menengah atas, dan pengeluaran di atas 20 dollar AS mewakili kelas atas.

Nilai dollar yang dipakai adalah dollar yang dikonversi dengan mempertimbangkan keseimbangan kemampuan berbelanja (purchasing power parity/PPP), sehingga masyarakat Indonesia yang diklasifikasikan sebagai kelas masyarakat miskin adalah masyarakat yang membelanjakan uang sekitar Rp 12.500 ke bawah per hari atau sekitar Rp 375.000 per bulan.

MENELISIK KELAS MENENGAH INDONESIA


Untuk menentukan kelas masyarakat,  nilai pengeluaran bukan satu-satunya ukuran yang dipergunakan, tetapi berdasarkan skor akhir yang merupakan skor rata-rata dari pembobotan atas pengeluaran, pendidikan, dan okupasi.
Perusahaan konsultan bernama Center for Middle Class Consumer, hasil risetnya dipublikasikan majalah SWA edisi 08/XXVIII/12-25 April 2012, memberi gambaran  atau karakteristik kelas menengah Indonesia.

8 (delapan) Karakteristik Kelas Menengah Indonesia :  


1.  1.  The Aspirator. Wajah kelas menengah ini mewakili karakter idealis, memiliki tujuan, serta menjadi influencer terhadap komunitasnya. Kalangan ini umumnya hadir dari kalangan profesional mapan yang sangat melek terhadap informasi, serta peduli terhadap kondisi sosial, budaya, ekonomi dan politik. Merek-merek seperti The Bodyshop, Periplus, TV One, Polygon merupakan contoh merek yang diadopsi oleh tipe ini.

2.   The Perfomer. Kalangan ini diwakili kalangan profesional serta entrepreneur yang terus berusaha mengekar karier (self-achievement). Relatif tidak mudah puas, bermotivasi tinggi dan cenderung risk-taker. Seringkali melihat peluang sebagai tantangan yang harus dilakoni. Merek-merek seperti C-1000, Smart FM, Metro TV, Telkom Speedy merupakan contoh merek yang diadopsi oleh layer kelas menengah  ini.

3.  The Expert. Tipe ini diwakili orang yang selalu berupaya menjadi ahli di bidangnya. Memiliki sifat kekeluargaan yang tinggi. Serta menjunjung tinggi norma-norma sosial dan kekeluargaan (traditional values). Merek-merek yang mewakili layer ini seperti Produk unit Link, Garuda Indonesia, Toyota Camri, Tabloid Otomotif.

4.  The Climber. Karakter tipe ini sangat economic-oriented. Risk taker dalam karier, serta menilai penghargaan dalam karier itu merupakan hal penting. Umumnya segmen ini terdiri dari karyawan level menengah/supervisor. Layer ini biasanya menggunakan merek-merek seperti Lion Air, Toyota Avanza, majalah Femina, Adira Finance, Majalah Info Franchise, dll.

5.  Trend Setter. Konsumen menengah ini berkarakter sedikit jarang bersosialisasi, jarang meng-up-date informasi, tetapi kemampuan finansialnya lumayan tinggi. Keinginan untuk dikagumi teman sebaya (peers) cukup tinggi. Tipe kalangan ini banyak dihuni tipe pekerja yang baru pertama kali "merasakan" bekerja (first Jobber) atau mahasiswa/pelajar yang berasal dari golongan menengah ke atas. Starbucks, iPad/iPhone, Mizone, Majalah Kosmopolitan, Honda Jazz merupakan contoh merek yang diadopsi kelompok ini.

6.   The Follower. Tipe ini perilakunya sangat digerakkan oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Ekspresi diri diejawantahkan dalam barang-barang bersifat life-style. Kalangan ini banyak diwakili mahasiswa dan anak-anak SMA. Merek-merek seperti 7 Eleven, Honda Scoopy, Majalah Hai, Samsung Galaxi Tab adalah merek-merek yang akrab di kalangan ini.

7.  The Settler. Kelompok ini mapan secara ekonomi dan finansial, karena umumnya kelompok ini berasal dari kelompok pedangang yang sukses. Tetapi dalam pengelolaannya cenderung bersikap konservatif. Kelompok ini biasa terkoneksi dengan merek seperti Dji Sam Soe, Hotel Santika, produk-produk Bank Syariah, Tabloid Nova.

8.  The Flower. Tipe ini bisa dikenali dengan kurangnya mengikuti perkembangan teknologi. Menjalani kehidupan mengalir seperti apa adanya. Menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual serta menjadikan keluarga menjadi dunianya. Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Ibu Rumah Tangga mendominasi kelompok menengah tipe ini.



(Courtesy of : http://modalindo.blogspot.com/2012/04/era-kelas-menengah-indonesia.html)
 

 POLA PERILAKU KONSUMSI KELAS MENENGAH




Masyarakat kelas menengah (middle class) secara umum memiliki karakteristik dinamis, educated, open minded, dan selalu mengikuti trend perkembangan gaya hidup (life Style). Bahkan mereka sering menjadi Trend setter atau kelompok Influencer. Kelas menengah sangat mobile dan mudah berubah. Mereka dengan  mudah menggeser selera dalam memilih suatu produk maupun jasa, bahkan dalam memilih partai politik maupun pigur calon presiden mereka sangat dinamis. Oleh karena itu, perusahaan atau institusi yang ingin menggarap kelas ini harus ikut dinamis dan terus bergerak mengikuti mobilitas mereka. Harus ada penyempurnaan yang kreatif  dan inovatif terhadap produk yang akan ditawarkan. Dan harus menerapkan strategi marketing yang memiliki keunggulan komperatif disisi penawaran (price), distribusi,  promosi dan tagline atau pesan iklan yang akan disuguhkan  harus menarik. 

Intinya,  campaign media yang dipergunakan untuk menarik perhatian masyarakat kelas menengah harus memiliki strategi dan taktik ber-empathy, edukatif serta SMART : Spescific, Measurable, Attanable, Relevant and Timely, karena kalangan new middle class memiliki karakteristik kritis, otonom dan rasional menentukan pilihan.


Kelompok menengah merupakan masyarakat produktif, berusia muda dan memiliki pekerjaan yang jelas, pada umumnya sangat interaktif dan mudah bergaul baik melalui media sosial maupun alat komunikasi seperti handphone. Mempunyai sumber penghasilan relatif cukup sehingga memiliki daya beli tinggi sebagai potensi pasar penjualan produk berteknologi tinggi. Oleh karena itu produk teknologi tinggi merupakan produk yang tepat ditawarkan kepada kelompok ini. Secara psikologis kelas menengah memiliki perilaku konsumsi berorientasi kepada pemenuhan gaya hidup, sehingga memiliki sikap dan persepsi khusus terhadap produk bermerek (Branded).



Dalam memilih suatu produk, kalangan menengah umumnya cenderung mempergunakan pertimbangan-pertimbangan :



Pertama, dalam memilih suatu produk atau jasa pkelas menengah sangat mempertimbangkan nilai, yaitu mengutamakan produk yang memiliki kualitas yang baik. 

Kedua, banyak kalangan menengah yang tidak terlalu memperhitungkan tinggi atau rendahnya biaya atau harga yang akan dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhannya,  terutama kalangan menengak atas  dalam prilaku konsumsinya lebih mengutamakan life style daripada harga yang mesti dibayar. 

Ketiga, kemudahan untuk mendapatkan produk. Karena sangat aktif dan mobil maka mereka sangat butuh dilayani dengan cepat, sehingga dibutuhkan kemampuan mempercepat atau mendekatkan suatu produk untuk memenuhi kebutuhannya, misalnya dengan cara home delivery service. Kelasa menengah sebagai konsumen dalam memenuhi kebutuhannnya tidak menyita waktu yang banyak dan tidak perlu meluangkan waktu untuk datang ke suatu tempat. Sarana yan tepat dipergunakan dalam hal ini misalnya online service dan e-commerce di internet.

 

Agar berhasil menggarap kelas menengah, terutama dalam hal memasarkan suatu produk atau jasa harus disesuaikan dengan gaya hidup mereka,  mencakup tiga aspek, yaitu activity (aktivitas), interest (minat), dan opinion (opini). Kelas menengah umumnya sangat mobile, bergerak dari satu tempat ke tempat lain, banyak waktu mereka tersita dalam mobilitas ini tetapi mereka tidak mau ketinggalan informasi atau koneksi, selalu berupaya memperoleh informasi secara up to date.

Karena kalangan menengah banyak menghabiskan waktu dalam perjalanan maka alat promosi seperti spanduk dan baliho sangat efektif menyasar kelompok ini, karena mereka dapat melihatnya sambil lalu. Selain outdoor promotion, untuk menyasar kelompok ini sangat tepat mempergunakan media internet  maupun mobile telekomunication seperti Blackberry Message, disamping itu, alat yang dapat dipergunakan untuk mencuri perhatia mereka bisa melalui pameran.

Karena kelompok menengah sangat sebuk dan tidak banyak memiliki waktu senggang, untuk menyampaikan pesan dalam kemasan promosi  atau advertising dapat dilakukan melalui media sosial seperti  facebook atau twitter yang secara inplisit memuat consumer selling, sales promotion, direct marketing, event. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kalangan menengah yang tidak sempat membaca Koran tetapi disela-sela kesibukannya mencari informasi melalui internet.

Tidak dapat dihindari bahwa untuk efektik menyasar kelompok menengah ini dibutuhkan program pemasaran berbentuk  Integrated Marketing Communication (IMC), yaitu alat promosi yang terintegrasi atau terpadu dalam alat komunikasi yang satu tetapi bisa sekaligus menyampaikan pesan dan berkomunikasi (integrated). Untuk memanfaatkan waktu yang sedikit maka harus dikemas penyampaian pesan yang singkat, padat dan hanya membutuhkan waktu sedikit melihatnya.

Pertama, produknya. Kelas menengah itu sadar akan nilai. Jadi mereka ini berorientasi pada nilai. Artinya, mereka ini menghendaki produk yang semakin baik. Jadi bukan yang ala kadarnya. Kalau kelas bawah itu tidak ada pilihan. Jadi yang sangat ekonomis, kualitasnya seperti apa tidak masalah. Kelas menengah itu sadar akan nilai, maka mencari yang lebih baik. Lalu ada upaya untuk meningkatkan penghasilan untuk memenuhi keinginan mereka itu. Ini tentu harus dijadikan dasar bagi pemasar untuk mengembangkan dan menyempurnakan produknya menjadi lebih baik. 

Kedua, harga. Sebagian kelas menengah, sebetulnya kelas ini besar ya. Kalau dibuat gambar, itu sebetulnya ada jenjangnya juga di dalam kelas ini. Ada kelas menengah atas, ada kelas menengah menengah, ada kelas menengah bawah. Dari ketiga jenjang itu, yang tidak terlalu berpikir mengenai harga, itu yang kelas menengah atas. Kalau yang menengah menengah dan menengah bawah ini masih berpikir tidak terlalu ketat mengenai harga. Sehingga bisa saja, apa harga ditetapkan lebih tinggi, mereka tidak masalah. Artinya mau mengikuti. Itu faktor yang kedua. 

Ketiga, kemudahan untuk mendapatkan produk. Kelas menengah itu sangat mobile dan sangat aktif, sehingga keinginan untuk terpenuhi itu sangat tinggi. Dalam mobilitas itu, bagaimana pemasar bisa memenuhi keinginan mereka. Tentu saja, ini perlu upaya-upaya yang sifatnya mendekatkan produknya kepada konsumennya. Misalnya, sekarang ini home delivery service kan sudah semakin marak. Artinya, konsumen itu tidak usah datang, produk itu akan tersampaikan ke tangan konsumen. Ini upaya mendekatkan, produk itu kepada konsumennya. Bisa juga online service, konsumen ingin mudah tetap di tempatnya, tapi bisa mendapatkan pelayanan. Yaitu melalui internet atau e-commerce.



PARTAI POLITIK  DALAM PERSEPSI KALANGAN MENENGAH 




Berdasarkan hasil survei Lembaga Konsultan Riset Alvara yang dilakukan  dengan wawancara tatap muka terhadap 1.532 responden di kota-kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Medan, Surabaya, Makasar, Bandung, dan Semarang.  Survey dilaksanakan 15 Juli sampai 23 Agustus 2013 terhadap responden berusia  20-54 tahun  dengan tingkat pengeluaran keluarga rata-rata di atas empat juta rupiah per-bulan.
Responden  ini dianggap merupakan gambaran kalangan kelas menengah Indonesia, dan  dapat mewakili perilaku memilih kelas menengah Indonesia.  Alasan hanya kelas menengah yang diambil sebagai responden karena jumlahnya sangat besar, yakni mencapai 135 juta orang. Selain itu, mereka memiliki pendidikan yang baik, mendapat akses informasi, serta rasional dalam memilih 


Hasil survey ini menunjukkan elektabilitas PDI Perjuangan dan Partai Gerindra di kalangan urban dan kelas menengah berada di urutan atas, tetapi elektabilitas kedua parpol itu masih di bawah swing voters. Elektabilitas kedua partai ini :

*      PDIP mencapai 14,8 persen  

*      Partai Gerindra 12,5 persen. 



Kesimpulan yang bisa ditarik dari survey ini, PDIP dan Gerindra bisa diterima oleh pemilih kelompok menengah perkotaan. PDIP banyak didukung oleh pemilih di kelas menengah berusia 20-24 tahun dan merata di semua profesi. Adapun Gerindra paling banyak didukung kelompok usia 25-29 tahun.  

Tingkat elektabilitas partai yang lain  seperti berikut :



Partai Golkar 8,4 persen
Partai Demokrat 7,4 persen

Partai Nasdem 4,6 persen
Partai Hanura 3,8 persen
Partai keadilan Sejahtera 3,4 persen
Partai Persatuan Pembangunan 2,2 persen
Partai Amanat Nasional 2,1 persen
Partai Kebangkitan Bangsa 1,7 persen
Partai Bulan Bintang 0,1 persen
Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia 0,1 persen 


Pemilih kelas menengah urban masih banyak yang ragu untuk menentukan partai mana yang akan dipilih, pemilih yang belum menentukan pilihan  partai (Swing Voter)  mencapai 39 persen. Rendahnya elektabilitas partai berbasis islam karena dianggap tidak memiliki tokoh  popular, dan mayoritas responden lebih tertarik  partai atau ideologi nasionalis.



 " Kelompok New Middle Class, kelas menengah Indonesia, Tidak Tertarik Terhadap Sentimen Primordialisme (SARA). Tetapi Lebih Memilih Paham atau Idiologi Nasionalisme " 


Dan yang mengagetkan elektabilitas partai demokrat relative masih tinggi padahal sedang diterpa banyak masalah kasus korupsi, perolehan ini dipengaruhi masih adanya faktor ketokohan Presiden SBY dan tanggapan masyarakat kelas menengah yang masih memberi apresiasi terhadap kinerja pemerintahan SBY, hal ini wajar karena yang bisa menikmati kondisi pemerintahan SBY baik secara ekonomi dan sosial adalah kelompok menengah. 




PIGUR PRESIDEN DALAM KACA MATA KALANGAN MENENGAH




Berdasarkan  survei Lembaga Konsultan Riset Alvara terhadap responden yang sama dalam survey tingkat elektabilitas partai politik, lembaga ini mempublikasikan  bagaimana tanggapan atau perilaku kelas menengah  Indonesia terhadap pigur Presiden Indonesia yang akan datang. Hasil surveu menunjukkan  Aburizal Bakrie Ketua Umum Partai Golkar sebagai calon presiden 2014 paling popular di kalangan urban dan kelas menengah,  namun, popularitas tersebut tidak sebanding dengan elektabilitasnya.

Ketika dilakukan survei, tanpa disodorkan nama kemudian ditanya siapa saja kandidat yang diketahui,  sebanyak  92,4 persen responden menyebut nama Aburizal Bakrie tetapi hanya 6,3 persen yang menilaia Aburizal Bakrie layak memimpin Indonesia. Bahkan hanya 6,2 persen yang bakal memilih  Aburizal Bakrie jika menjadi peserta pilpres. Tingginya popularitas Aburizal Bakrie ini karena dia setiap hari muncul di televisi.

" Memperoleh Popularitas Tinggi, Seorang Pigur atau Kandidat Dalam Pemilu Tidak Otomatis akan memperoleh tingkat elektabilitas tinggi "

Prabowo Subianto memperoleh tingkat  popularitas di angka 92,4 persen dengan tingkat elektabilitas 17 persen. Megawati Soekarnoputri memperoleh angka popularitas 82,5 persen dengan tingkat  elektabilitasnya 7 persen. Pigur calon presiden yang memperoleh rasio baik antara popularitas dan elektabilitas adalah Joko Widodo  yang memperoleh angka  popularitas sebesar  70,5 persen dan elektabilitas mencapai angka 22,1 persen. 

Popularitas tokoh lain, yakni Wiranto, sebesar 77,8 persen dan elektabilitas 4,6 persen, Jusuf Kalla popularitas 69,1 persen dengan  elektabilitas 7,4 persen,  Dahlan Iskan popularitas 69,1 persen dengan elektabilitas 6,9 persen,  Hatta Rajasa popularitas 61,6 persen dan elektabilitas 1 persen, Surya Paloh Popularitas 61,5 persen dan elektabilitas 2 persen.