PERAN ACHIEVEMENT DRIVE BAGI SALES FORCE
SEBUAH PERMENUNGAN MENARIK MENCARI TITIK PANAS PENGGERAK KEMAUAN BERPRESTASI DALAM HIDUP MAUPUN PEKERJAAN. BERCERMIN DARI SEBUAH CERITA PERJUANGAN PERGUMULAN HIDUP SEORANG SALESMAN BERSELANCAR DI TENGAH GELOMBANG KEHIDUPAN METROPOLIS.
KARYA TULIS : DAUD GINTING.
_________________________________________________________________________________
NAMAKU TAHAN SAGALA
Disuatu kesempatan, Seorang manager penjualan memanggil anak buahnya yang memiliki tugas sebagai salesman bernama Richard ke ruangannya. Richard merupakan salah seorang salesman berprestasi, memiliki latar belakang pendidikan bagus, alumni Fakultas Ekonomi salah satu Universitas Terbaik dalam negeri, dan tiga bulan terakhir merealisasikan penjualan dengan volume "over target".
Dalam rangka memenuhi rencana perusahaan melakukan ekspansi pasar, Richard dipilih pimpinan sebagai salah seorang bakal calon branch manager salah satu kantor cabang yang segera akan dibuka di salah satu kabupaten yang baru saja dimekarkan. Main product yang akan dipasarkan di daerah tersebut alat-alat kesehatan keperluan rumah sakit.
Ketika peluang ini disampaikan kepada Richard, jawabannya ternyata diluar dugaan manager penjualan, dengan raut wajah menunjukkan ekspresi gelisah Richard ber-ujar, "Maaf Pak, untuk kali ini ijinkan saya tidak menerima tawaran berharga ini, karena saya lebih yakin dapat mempertahankan prestasi penjualan saya jika tetap berada di kota ini. Saya sudah familier dengan konsumen disini dan telah membina relasi yang baik dengan mereka"
Mendengar jawaban yang menimbulkan rasa kaget ini, manager penjualan kemudian merespon tanggapan Richard dengan berkata, " Kesempatan hanya datang sekali Pak Richard, anda adalah salah satu karyawan terbaik di perusahaan ini, sehingga kami merencanakan anda mendapat kesempatan pertama dipromosikan menjadi branch manager. Coba kembali kamu pertimbangkan untuk menerima kesempatan ini, saya berikan kesempatan memikirkannya untuk satu hari ini. Besok pagi kita akan bicarakan kembali...!!!".
Dalam pertemuan kedua besok paginya, Ternyata Richard masih memberi jawaban yang sama, dia memegang teguh persepsinya untuk memilih tetap menjadi salesman, tidak menerima kesempatan menjadi manager dengan kalkulasi, tetap menjadi salesman di kota tempat tinggalnya saat ini dianggap lebih memiliki prospek meningkatkan volume penjualan dan sudah tentu memberi kesempatan besar untuk mendapatkan uang lebih banyak dari komisi, insentif dan bonus disamping salary bulanan.
Untuk memecahkan kebekuan, akhirnya manager penjualan memanggil Tahan Sagala untuk menghadap masu ke ruang kerjanya. Kemudian Si Tahan Sagala duduk persis di sebuah kursi yang berada persis di depan meja kerja manager penjualan yang memiliki nama Jan Hui Jack. Sebagaimana biasanya setiap hari jika bertemu dengan semua kalangan, Tahan Sagala duduk dengan posisi rileks menatap pimpinannya dengan raut wajah ceria, bibir terkatup tetapi masih nampak menunjukkan ekespresi senyum.
Melihat sikap Tahan Sagala yang selalu bersikap ceria, orang akan menyangka bahwa Tahan Sagala merupakan salah satu manusia yang tidak memiliki beban pemikiran berarti, padahal dibalik sikapnya yang agresif dan penuh semangat serta berintonasi tinggi dalam setiap berbicara tersimpan banyak pergumulan hidup yang mesti ditaklukkan dan dicari solusinya. Bahkan untuk kelangsungan hidup sehari-hari dia terpaksa tidak hanya memikirkan uang masuk untuk kebutuhannya sendiri, selain harus membantu biaya kebutuhan pendidikan adik-adiknya, tidak jarang setiap bulan orang tua-nya juga meminta bantuan dana untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Orang tuanya yang tinggal di suatu desa terpencil di salah satu kabupaten yang berada di ujung Pulau Sumatera bukan kalangan berada sehingga untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Tahan Sagala harus kuliah sambil bekerja. Saat ini dia tengah duduk di Semester Terakhir, mata kuliah sudah lulus semua, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk ujian skripsi.
Tahan Sagala menjadi Salesman di perusahaan distribusi obat-obatan dan alat-alat kesehatan telah berlangsung selama tiga tahun, dia bukan seorang salesman yang mempunyai track record mapun prestasi penjualan berkategori jelek, dan sebaliknya tidak juga merupakan sales yang memiliki prestasi terbaik, catatan pencapaian volume penjualannya setiap bulan bagaikan grafik naik turun sebagaimana gelombang hidup yang mesti dilaluinya sepanjang perjalanan hidup, pendidikan dan pekerjaannya.
Jan Hui Jack, alumni salah satu Universitas ternama Amerika Serikat negeri-nya Uncle Sam. Latar belakang pendidikan-nya business management, kini menjadi area manager suatu wilayah pemasaran sebuah perusahaan distribusi alat-alat kebutuhan kesehatan. Merupakan salah satu manager berprestasi, selama dibawah kepemimpinannya regio pemasaran perusahaan yang dipimpinnya mengalami perkembangan pesat, hal ini dapat terlihat dari ekspansi wilayah pemasaran dan pembukaan cabang yang dilakukan. Namun untuk kali ini Pak Jack dihadapkan kepada sebuah studi kasus "unik" yang membutuhkan solusi lain dari lain, alias harus dilakukan dengan cara yang tidak lajim dilakukan para manager umumnya.
Setelah memperoleh jawaban bahwa salah satu karyawan terbaiknya menolak dipromosikan menjadi branch manager kantor cabang baru, kemudian dihadapkan kepada pilihan mengambil keputusan memuat unsur "gambling", spekulatif dan bagaikan sebuah eksprimen. Tahan Sagala merupakan salah satu anak buahnya di devisi penjualan, memiliki loyalitas, tidak memiliki catatan buruk tentang karakter kerja, relatif kecil mangkir kerja tetapi menurut laporan penjualan produktivitasnya tidak stabil, adakalanya berhasil mencapai target bahkan pernah over target tetapi sering juga tidak mencapai target.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, Jack harus memilih Tahan Sagala sebagai bakal calon branch manager cabang baru yang segera akan dibuka. Karena paham bahwa Saudara Tahan Sagala tidak memiliki "track record" diatas rata-rata, dia menantang Tahan Sagala melalui pendekatan rada mengandung unsur intimidasi. Untuk mewujudkan rencananya Bapak Jack berkata, " Bapak Tahan, saya akan memberi tugas baru kepada Bapak. Tugas ini tidak boleh ditolak, hanya ada ada dua alternatif pilihan, diterima atau keluar dari perusahaan !!!" Setelah melihat ekspresi wajah Tahan Sagala menunjukkan rasa kaget, dan memandang tajam ke bulatan hitam yang tampak di mata Tahan Sagala, kemudian Jan Hui Jack melanjutkan pembicaraan, berujar tanpa menghiraukan sikap si Tahan : "Ini memang keputusan keras karena perusahaan membutuhkan Bapak Tahan Sagala..!!!". Ternyata Tahan Sagala tidak mampu mengendalikan diri untuk terus berdiam diri mendengar kata-kata yang diucapkan pimpinannya. Rasa heran dan tanda tanya besar yang berkecamuk dalam benaknya, mendorong Tahan Sagala menyela pembicaraan seiring mengajukan pertanyaan, "Tugas apa rupanya itu Pak ? Aku ini jadi heran, nggak tau apa sebabnya kok tiba-tiba kayak diancam begini !!!"
Banyak metode yang ditawarkan untuk meningkatkan kinerja maupun motivasi kerja salesman, baik bentuk pemberian pelatihan atau training maupun seminar. Diantara materi yang sering disampaikan dalam upaya pengembangan produktivitas salesman, materi "motivasi" merupakan salah satu bahan yang paling sering disampaikan. Manager penjualan maupun Sales Supervisor juga dalam kegiatan sehari-sehari, baik ketika memberi training maupun briefing sering mengutamakan pemberian materi motivasi.
Motivasi dipercayai sebagai salah satu faktor motor penggerak peningkatan kinerja salesman dengan alasan tanpa ada motivasi mustahil seorang salesman bekerja dengan baik, tidak akan memiliki produktivitas dan akan meningkatkan "turn over" atau frekuensi keluar masuk (mengundurkan diri) sales force.
Asumsi ini tidak salah karena sesuai dengan defenisinya, kata motivasi berasal dari kata dasar motif yang memiliki arti "kebutuhan" atau "keinginan" yang muncul di dalam diri seseorang, motif ini menimbulkan stimulus bagi seseorang agar berupaya memenuhinya. Upaya memenuhi kebutuhan yang muncul dari dalam diri seseorang menjadi daya dorong (motivasi) bagi seseorang untuk melakukan sesuatu yang mampu memenuhi keinginan tersebut.
Berdasarkan prinsif cara gerak motivasi ini maka banyak didesain metode motivasi yang berorientasi kepada upaya memenuhi kebutuhan umum yang muncul dalam diri seseorang. Contoh konkrit yang sering dilakukan, memahami bahwa kebutuhan utama yang ingin dipenuhi oleh manusia adalah kebutuhan fisiologis yang biasanya dapat dipenuhi dengan memiliki uang, maka bentuk alat motivasi yang sering dilakukan berupa kebijakan finansial atau keuangan, misalnya struktur gaji, komisi, insentif, dan bonus yang diberikan dalam bentuk uang.
Pembuat kebijakan, baik top manajer maupun middle manager beserta sales supervisor meyakini semakin besar jumlah uang bonus maupun insentif yang ditawarkan kepada tenaga penjualan diharapkan mereka akan bergairah dan termotivasi untuk memperolehnya. artinya program atau instrumen motivasi yang diterapkan relevan untuk meningkatkan kinerja maupun produktivitas sales force. Maka pada umumnya perusahaan yang mengandalkan salesman sebagai ujung tombak mendistribusikan produk atau jasa mempergunakan mekanisme seperti ini.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa uang atau materi merupakan salah satu media paling memiliki magnet besar untuk menggerakkan sikap dan tindakan seseorang, bukan berarti dalam hal ini semua orang dikategorikan "materialistik", tetapi karena faktor kebutuhan akan uang yang berfungsi sebagai alat tukar untuk memenuhi maupun memperoleh kebutuhan yang timbul dari dalam diri seseorang. Maka wajar jika uang dijadikan sebagai alat untuk memotivasi seseorang.
Namun jangan lupa bahwa uang bukan merupakan satu-satunya kebutuhan manusia, selain berupaya memenuhi kebutuhan fisiologis (makan, minum, tempat tinggal), manusia juga memiliki kebutuhan rasa aman, interaksi sosial, penghargaan dan aktualisasi diri. Secara hirarkis memang manusia berupaya agar terlebih dahulu memenuhi kebutuhan primer baru kemudian berupaya memenuhi kebutuhan sekunder. Tetapi untuk mendorong seseorang mampu memenuhi kebutuhan yang beragam tersebut dibutuhkan kemampuan (power) maupun achievement drive atau daya dorong keinginan untuk berprestasi maupun keinginan untuk menyuumbangkan sesuatu yang terbaik dari dalam dirinya sebagai salah satu cara menunjukkan eksistensi maupun harga dirinya sebagai seorang manusia berprestasi.
Kompleksnya jenis kebutuhan manusia ini menjadi acuan bahwa tidak cukup hanya mempergunakan satu bentuk alat motivasi untuk dipergunakan untuk semua orang dalam rangka memotivasi anak buah dan meningkatkan kinerja team kerja maupun individu.Manusia itu memang unik, masing-masing memiliki perbedaan satu sama lain, tidak dapat menerapkan satu cara untuk melakukan pendekatan terhadap manusia yang secara eksistensial memang berbeda-beda, manusia hanya dapat dikelompokkan dalam satu kategori berdasarkan kemiripan yang ada diantara mereka, misalnya sikap, kerangka berpikir (frame of thinking) maupun tindakan.
Pembuat kebijakan, baik top manajer maupun middle manager beserta sales supervisor meyakini semakin besar jumlah uang bonus maupun insentif yang ditawarkan kepada tenaga penjualan diharapkan mereka akan bergairah dan termotivasi untuk memperolehnya. artinya program atau instrumen motivasi yang diterapkan relevan untuk meningkatkan kinerja maupun produktivitas sales force. Maka pada umumnya perusahaan yang mengandalkan salesman sebagai ujung tombak mendistribusikan produk atau jasa mempergunakan mekanisme seperti ini.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa uang atau materi merupakan salah satu media paling memiliki magnet besar untuk menggerakkan sikap dan tindakan seseorang, bukan berarti dalam hal ini semua orang dikategorikan "materialistik", tetapi karena faktor kebutuhan akan uang yang berfungsi sebagai alat tukar untuk memenuhi maupun memperoleh kebutuhan yang timbul dari dalam diri seseorang. Maka wajar jika uang dijadikan sebagai alat untuk memotivasi seseorang.
Namun jangan lupa bahwa uang bukan merupakan satu-satunya kebutuhan manusia, selain berupaya memenuhi kebutuhan fisiologis (makan, minum, tempat tinggal), manusia juga memiliki kebutuhan rasa aman, interaksi sosial, penghargaan dan aktualisasi diri. Secara hirarkis memang manusia berupaya agar terlebih dahulu memenuhi kebutuhan primer baru kemudian berupaya memenuhi kebutuhan sekunder. Tetapi untuk mendorong seseorang mampu memenuhi kebutuhan yang beragam tersebut dibutuhkan kemampuan (power) maupun achievement drive atau daya dorong keinginan untuk berprestasi maupun keinginan untuk menyuumbangkan sesuatu yang terbaik dari dalam dirinya sebagai salah satu cara menunjukkan eksistensi maupun harga dirinya sebagai seorang manusia berprestasi.
Kompleksnya jenis kebutuhan manusia ini menjadi acuan bahwa tidak cukup hanya mempergunakan satu bentuk alat motivasi untuk dipergunakan untuk semua orang dalam rangka memotivasi anak buah dan meningkatkan kinerja team kerja maupun individu.Manusia itu memang unik, masing-masing memiliki perbedaan satu sama lain, tidak dapat menerapkan satu cara untuk melakukan pendekatan terhadap manusia yang secara eksistensial memang berbeda-beda, manusia hanya dapat dikelompokkan dalam satu kategori berdasarkan kemiripan yang ada diantara mereka, misalnya sikap, kerangka berpikir (frame of thinking) maupun tindakan.