Salam Sapa :

Tulislah Pengalaman Pahit Diatas Pasir Agar Mudah Terhapus Oleh Arus Gelombang Air Laut, Ukirlah Pengalaman Indah Diatas Batu Agar Abadi. Tidak Lekang Di Musim Kemarau
Dan Tidak Lapuk Di Musim Hujan. Sekuat-kuatnya Daya Ingat Kita Lebih Abadi Kemampuan Tulisan Menyimpan Catatan Menarik. Untuk Itu Ijinkankan aku merangkai tulisan disini.

Sabtu, 27 Oktober 2012

SALESMAN PROFESI ANTARA BENCI DAN RINDU

"Mengenakan julukan "Antara Benci dan Rindu" terhadap profesi salesman sebenarnya tidak terlalu berlebihan, karena banyak pihak memandang profesi salesman dengan kacamata yang salah. Disatu sisi ada orang yang menghindari profesi ini, sementara di pihak lain banyak institusi sangat mengandalkan sales force sebagai motor penggerak mencapai target organisasinya".


Profesi Salesman bukan merupakan hal yang asing bagi sebagian besar masyarakat. Masyarakat sudah terbiasa berhadapan dengan salesman terutama ketika melakukan interaksi jual beli. Ketenaran nama atau sebutan "Salesman" sebagai sebuah profesi tidak ternyata tidak setenar panggilannya. Ironisnya profesi ini sering dihindari para pencari kerja karena dianggap tidak memiliki prestisius, bahkan sering dipandang sebelah mata.

Jika disodorkan Quisioner Survey atau pertanyaan, responden diminta menjawab dengan jujur, pada umumnya setiap orang akan menjawab tidak pernah memiliki cita-cita menjadi seorang "Salesman".  Fenomena ini bukan merupakan hal aneh karena sejak duduk di bangku sekolah setiap orang memiliki obsesi menjadi pegawai atau karyawan kantoran seperti, manager, dokter, guru, polisi, setidaknya pekerjaan yang duduk di belakang meja.

Sebelum berbicara lebih jauh tentang profesi salesman, persepsi minus ini harus di entaskan terlebih dahulu sebelum mempresentasikan peluang menarik menekuni pekerjaan sebagai salesman. Terutama dalam hal melakukan recruitment, langkah pertama yang ideal dilakukan adalah menggeser cara berpikir (mindset) atau persepsi yang salah tentang profesi sebagai salesman.

PANDANGAN MINUS ATAS PROFESI SALESMAN


Pandangan minus terhadap profesi sebagai salesman pertama harus dilihat dari persepsi yang muncul dalam diri (inside out) seorang bakal calon salesman, kedua persepsi yang muncul dari luar diri seseorang. 

Banyak masyarakat memiliki cara pandang yang salah terhadap profesi salesman. Dalam konteks ini berlaku perumpamaan "Tidak Kenal Maka Tidak Sayang", artinya orang yang memiliki persepsi negatif dan salah terhadap profesi salesman karena mereka memang tidak paham persis apa dan bagaimana fungsi, tugas dan peluang yang diperoleh seorang salesman. Mereka hanya melihat sisi luar yang nampak dengan mempergunakan kaca mata yang salah, artinya cara pandang mereka salah dalam memahami salesman.

Hal ini tidak dapat disalahkan tanpa reserve, oleh karena itu untuk memperbaiki alur pemikiran negatif harus dilakukan melalui proses memberi kesempatan mempelajari atau memperoleh informasi yang tepat tentang profesis salesman yang sesungguhnya. Cara pandang salah seperti ini juga banyak dianut oleh para bakal calon salesman sehingga mempengaruhi minat dan keseriusannya memilih profesi ini.

Memang banyak pengalaman buruk yang pernah diterima masyarakat dari perlakuan salesman tidak profesional, baik itu yang merugikan calon konsumen maupun berupa tindakan tipu daya yang merugikan. Namun kesalahan sebagian kecil salesman tidak bertanggungjawab ini bukan berarti menjadi konklusi umum bahwa semua salesman itu memiliki sifat buruk.

Seorang salesman yang berhasil sangat tergantung pada banyakny atau kuantitas relasi yang dibinanya, semakin banyak orang menjadi mitra salesman maka semakin tinggi probabilitas calon konsumen yang bisa diperoleh seorang salesman, sehingga semakin tinggi kemungkinan dia melakukan closing order atau mencapai target penjualan. Bagi salesman yang ingin sukses menekuni profesinya harus menjadikan semua orang (suspect) sebagai asset yang harus di prospecting. Semakin banyak suspect yang dimilikinya maka semakin besar kemungkinan dia memperoleh order penjualan. Maka merupakan kesalahan fatal jika ada seorang salesman mengecewakan calon konsumennya, tindakan seperti itu sama artinya menutup pintu kemungkinan memperoleh order penjualan.

Tindakan mengecewakan calon konsumen merupakan dosa besar bagi seorang salesman karena tidak mampu membina kesinambungan relasi antara calon pembeli dan penjual. Maka tindakan tidak terpuji yang dilakukan seorang salesman merupakan benalu yang merusak citra salesman itu sendiri dan perusahaan yang memberi kepercayaan. Sadar akan pentingnya arti calon konsumen bagi kelangsungan hidup perusahaan maka mustahil sebuah perusahaan penjualan membiarkan salesman sebagai ujung tombak industrinya melakukan penipuan terhadap calon konsumen.

Tidakan tidak terpuji salesman terhadap calon konsumen merupakan penyimpangan moral yang timbul dalam diri salesman itu sendiri, dan perusahaan yang mengetahui tindakan salesman seperti ini akan memutuskan hubungan kerja. Karena selain merugikan citra perusahaan, salesman tersebut juga akan menjadi beban perusahaan.

Fenomena lain yang membuat profesi salesman tidak menarik dimata masyarakat, adalah karena faktor gengsi atau life style. Banyak orang beranggapan bahwa salesman merupakan jabatan terendah dalam sebuah perusahaan dan tidak menjanjikan untuk peningkatan status sosial dan ekonomi. Pandangan seperti ini sangat salah besar, karena dalam struktur organisasi perusahaan pemasaran salesman memiliki peranan penting dan strategis, yaitu menjadi ujung tombak perusahaan mendistribusikan produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan, bahkan salesman merupakan profit centre bagi perusahaan pemasaran. Tanpa mereka tidak akan sampai sebuah produk ke tangan konsumen dan tidak akan terjadi proses penjualan yang menimbulkan margin keuntungan bagi perusahaan. Oleh karena itu perusahaan sangat memiliki kepentingan terhadap keberadaan salesman dan akan selalu berupaya melakukan pemberdayaan, maintenance dan memperkecil tingkat turn over salesman.

Pada umumnya perusahaan yang telah profesional mendesain banyak kebijakan marketing dan struktur penghasilan berupa gaji, komisi, insentif dan bonus bagi salesman sebagai cara untuk mempertahankan dan memberi motivasi. Karena banyaknya kebijakan yang memberi kesempatan memperoleh uang bagi salesman, secara finansial seorang salesman tidak terbatas sumber penghasilannya, bahkan salesman yang memiliki produktivitas tinggi adakalanya memperoleh penghasilan uang lebih besar dari karyawan yang duduk di belakang meja, bahkan sering mengalahkan penghasilan supervisor atau manager yang secara organisasi merupakan atasan seorang salesman. Dari sisi tingkat pendapatan atau uang masuk, seorang salesman tidak terbatas, karena secara prinsif kerja seorang salesman dalam sebuah perusahaan tidak ubahnya bagaikan seorang wirausahawan (entrepreneur) tanpa menyediakan modal.  Jika uang sebagai motivasi utama dalam bekerja bagi seseorang maka memilih menjadi seorang salesman merupakan tindakan yang tepat. Demikian juga haknya jika masih ada masyarakat yang beranggapan bahwa profesi saleman tidak memiliki prospek atau masa depan yang bagus maka persepsi itu salah total.

Berbicara tentang prospek kemajuan karir atau peningkatan jabatan dalam sebuah perusahaan, justru pekerjaan sebagai salesman yang memiliki peluang paling jelas, terukur dan terbuka kesempatan yang luas. Dibandingkan dengan karyawan yang lain, produktivitas atau kinerja seorang salesman dapat diukur secara kuantitatif, dan dapat dilihat secara kasat mata, karena kinerja seorang salesman dilihat dari jumlah penjualan yang dilakukan serta prestasi yang diperolehnya mencapai target penjualan. Sedangkan karyawan lain prestasi kerjanya adakalanya hanya dapat diukur secara kualitas sehingga sering memperoleh nilai yang bias. Sudah merupakan tradisi di dalam perusahaan pemasaran bahwa seorang salesman berprestasi akan mendapat kesempatan promosi jabatan menjadi supervisor penjualan, kemudian terbuka kesempatan untuk naik jabatan menjadi manager atau kepala cabang, bahkan tidak tertutup kemungkinan suatu ketika akan memperoleh kesempatan menjadi top management.

Bukan merupakan rahasia lagi bahwa perusahaan yang memiliki team penjualan (sales force) dan mengandalkan salesman sebagai ujung tombak mendistribusikan produk atau jasa sebagai sumber cash in flow perusahaan pada umumnya mengutamakan karyawan yang meniti karir dari jenjang salesman sebagai cikal bakal pimpinan dalam organisasi perusahaan tersebut, selain karena faktor kinerja yang dengan mudah dapat diukur secara kuantitatif, para salesman dianggap telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni tentang peta sumber penjualan perusahaan, dan salesman telah teruji dalam sisi daya juang (achievement drive). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar