BERKAH PERTUMBUHAN KELAS MENENGAH
DINAMIKA STYLE OF LIFE & POTENSI PELUANG MENARIK
___________________________________________________
Karena masyarakat memiliki struktur sosial plural dan majemuk maka dibutuhkan pengelompokan masyarakat berdasarkan golongan atau klasifikasi tertentu. Dalam ilmu sosial sering diberi istilah “KELAS SOSIAL”. Memang penyebutan “kelas” terhadap struktur masyarakat sering menimbulkan kontraversi, karena setiap kali berbicara tentang penetapan kelas, sering muncul asosiasi negatif tentang trauma pertentangan kelas di masyarakat, hal ini terutama dipengaruhi oleh sikap paranoid terhadap teori marxisme. Padahal klasifikasi masyarakat banyak dibutuhkan untuk kepentingan menentukan segmen pasar bagi dunia pemasaran, dan menentukan kelompok masyarakat sebagai basis massa bagi partai politik.
Tidak dapat dihindari, untuk tujuan pengelompokan
masyarakat sebagai objek penelitian, statistik maupun pengetahuan dibutuhkan
penetapan kelas sosial sebagai variable pendataan. Untuk bahan penelitian
kuantitatif hal ini kecil kemungkinan dihindarkan, sedangkan untuk disiplin
ilmu yang lain, baik ilmu murni maupun ilmu terapan tetap memerlukan tindakan
klasifikasi, misalnya untuk ilmu marketing klasifikasi masyarakat
diperlukan sebagai dasar menentukan sasaran penjualan (targeting) maupun
untuk tujuan Segmentation. Untuk kepentingan strategi politik praktis
juga dibutuhkan analisa kelas sosial masyarakat sebagai sarana menentukan
konstituen mana menjadi sasaran untuk digarap dalam upaya memperoleh suara
pemilih (Voter).
Mencermati hasil sensus penduduk Indonesia 2010,
maupun membandingkan data penduduk dari tahun ke tahun, jumlah pertambahan
penduduk Indonesia sangat besar. Realita ini merupakan peluang besar sebagai
pangsa pasar bagi perusahaan bisnis, dan merupakan calon pemilih (konstituen)
potensial bagi partai politik. Catatan menarik yang dapat dipetik dari
mencermati struktur masyarakat Indonesia, secara kuantitatif masyarakat
Indonesia dewasa ini didominasi oleh kelompok “Kelas Menengah”.
Karl Marx (1867), menggolongkan masyarakat
dalam dua kelas, yaitu majikan (kaum borjuis) yang menguasai alat
produksi, keuangan, lahan, dan teknologi produksi. Namun dialektika ini
menimbulkan pertanyan, dimana kalangan professional berada, terutama diantara
kepentingan buruh dan majikan. Metode ini juga sering dipandang sarat dengan
nilai-nilai perjuangan antar kelas di masyarakat.
Max Weber (1920), memandang persoalan kelas bukan
hanya bagaimana kekuasaan atas alat produksi terletak, tetapi menyangkut
derajat ekonomi dan prestise. Seseorang bisa saja berpenghasilan besar dan
memiliki usaha dengan karyawan banyak. Namun, karena pendidikannya rendah, ia
belum tentu masuk ke kelas atas. Sebaliknya, penyair atau sastrawan bisa masuk
kelas menengah karena derajat pengetahuannya, meskipun ekonominya morat-marit
dan tidak menguasai alat produksi kapitalistik.
Asia Development Bank (ADB). (2010),
mematok yang dikategorikan sebagai kelas menengah adalah mayarakat
yang memiliki rentang pengeluaran perkapita sebesar 2 dollar AS hingga 20
dollar AS per-hari. Sedangkan Bank Dunia menetapak golongan masyarakat
kelas menengah adalah masyarakat yang memiliki pengeluaran 4 dollarAS
hingga 10 dollar AS per-hari.
Lester Thurow. (1987)
mendefiniskan dan menetapkan kelas menengah berdasarkan tingkat penghasilan
masyarakat di Amerika. Disebut sebagai kelompok menengah apabila
masyarakat memiliki pendapatan (income) dalam rentang antara 75%
dan 125% dari titik tengah (median) pendapatan perkapita.
Banerjee dan Duflo. (2008),
mendefenisikan kelas menengah berdasarkan dua alternatif, yaitu, dilihat dari
pendapatan perkapita per hari antara 2 dollar AS hingga 4 dollar AS
dan antara 6 dollar AS hingga 10 dollar AS.
W Lloyd Warner, ahli antropologi dan sosiologi dari
Universitas Chicago, Amerika Serikat, pada tahun 1949 mengemukakan acuan
prosedur pengukuran status sosial berdasarkan derajat pekerjaan,
pendapatan, kualitas rumah, dan area tempat tinggal, dan AB
Hollingshead (1971) juga mengemukakan cara klasifikasi lebih sederhana
dengan menggunakan ukuran pekerjaan dan pendidikan untuk membentuk stratifikasi
kelas atas, menengah atas, menengah, menengah bawah, dan bawah.
Temuan John Goldthorpe
merupakan salah satu alat analisis yang paling luas dipergunakan dalam
berbagai penelitian, termasuk penelitian komparasi kelas menengah.. Ia
mendasarkan pemilahan sosial atas dasar pekerjaan, yang pada intinya membagi
klasifikasi masyarakat dalam bentuk tiga kelompok besar masyarakat , kelas
atas, menengah, dan pekerja.
Umumnya metode yang paling sering
diergunakan dewasa ini adalah membuat stratifikasi sosial berdasarkan
pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan pengeluaran, dan mempergunakan
kriteria penggolongan pengeluaran mengikuti standar Bank Dunia.
Pengeluaran per hari di bawah 2 dollar AS digolongkan sebagai kelas miskin
(Kelas Paling Bawah atau Miskin), pengeluaran dari 2 dollar AS
hingga 4 dollar AS kelas bawah, pengeluaran dari 4 dollar AS hingga 10 dollar
AS kelas menengah, pengeluaran dari 10 dollar AS hingga 20 dollar AS kelas
menengah atas, dan pengeluaran di atas 20 dollar AS mewakili kelas atas.
Nilai dollar yang dipakai adalah dollar
yang dikonversi dengan mempertimbangkan keseimbangan kemampuan berbelanja (purchasing
power parity/PPP), sehingga masyarakat Indonesia yang diklasifikasikan
sebagai kelas masyarakat miskin adalah masyarakat yang membelanjakan uang
sekitar Rp 12.500 ke bawah per hari atau sekitar Rp 375.000 per bulan.
MENELISIK KELAS MENENGAH INDONESIA
Untuk menentukan kelas masyarakat, nilai pengeluaran bukan
satu-satunya ukuran yang dipergunakan, tetapi berdasarkan skor akhir yang
merupakan skor rata-rata dari pembobotan atas pengeluaran, pendidikan, dan
okupasi.
2. The Perfomer. Kalangan ini diwakili kalangan profesional serta entrepreneur yang terus berusaha mengekar karier (self-achievement). Relatif tidak mudah puas, bermotivasi tinggi dan cenderung risk-taker. Seringkali melihat peluang sebagai tantangan yang harus dilakoni. Merek-merek seperti C-1000, Smart FM, Metro TV, Telkom Speedy merupakan contoh merek yang diadopsi oleh layer kelas menengah ini.
3. The Expert. Tipe ini diwakili orang yang selalu berupaya menjadi ahli di bidangnya. Memiliki sifat kekeluargaan yang tinggi. Serta menjunjung tinggi norma-norma sosial dan kekeluargaan (traditional values). Merek-merek yang mewakili layer ini seperti Produk unit Link, Garuda Indonesia, Toyota Camri, Tabloid Otomotif.
4. The Climber. Karakter tipe ini sangat economic-oriented. Risk taker dalam karier, serta menilai penghargaan dalam karier itu merupakan hal penting. Umumnya segmen ini terdiri dari karyawan level menengah/supervisor. Layer ini biasanya menggunakan merek-merek seperti Lion Air, Toyota Avanza, majalah Femina, Adira Finance, Majalah Info Franchise, dll.
5. Trend Setter. Konsumen menengah ini berkarakter sedikit jarang bersosialisasi, jarang meng-up-date informasi, tetapi kemampuan finansialnya lumayan tinggi. Keinginan untuk dikagumi teman sebaya (peers) cukup tinggi. Tipe kalangan ini banyak dihuni tipe pekerja yang baru pertama kali "merasakan" bekerja (first Jobber) atau mahasiswa/pelajar yang berasal dari golongan menengah ke atas. Starbucks, iPad/iPhone, Mizone, Majalah Kosmopolitan, Honda Jazz merupakan contoh merek yang diadopsi kelompok ini.
6. The Follower. Tipe ini perilakunya sangat digerakkan oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Ekspresi diri diejawantahkan dalam barang-barang bersifat life-style. Kalangan ini banyak diwakili mahasiswa dan anak-anak SMA. Merek-merek seperti 7 Eleven, Honda Scoopy, Majalah Hai, Samsung Galaxi Tab adalah merek-merek yang akrab di kalangan ini.
7. The Settler. Kelompok ini mapan secara ekonomi dan finansial, karena umumnya kelompok ini berasal dari kelompok pedangang yang sukses. Tetapi dalam pengelolaannya cenderung bersikap konservatif. Kelompok ini biasa terkoneksi dengan merek seperti Dji Sam Soe, Hotel Santika, produk-produk Bank Syariah, Tabloid Nova.
8. The Flower. Tipe ini bisa dikenali dengan kurangnya mengikuti perkembangan teknologi. Menjalani kehidupan mengalir seperti apa adanya. Menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual serta menjadikan keluarga menjadi dunianya. Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Ibu Rumah Tangga mendominasi kelompok menengah tipe ini.
Perusahaan
konsultan bernama Center for Middle Class
Consumer, hasil risetnya dipublikasikan majalah SWA edisi 08/XXVIII/12-25
April 2012, memberi gambaran
atau karakteristik kelas menengah Indonesia.
8
(delapan) Karakteristik Kelas Menengah Indonesia :
8 (delapan) Karakteristik Kelas Menengah Indonesia :
1. 1. The
Aspirator. Wajah
kelas menengah ini mewakili karakter idealis, memiliki tujuan, serta menjadi influencer
terhadap komunitasnya. Kalangan ini umumnya hadir dari kalangan profesional
mapan yang sangat melek terhadap informasi, serta peduli terhadap kondisi
sosial, budaya, ekonomi dan politik. Merek-merek seperti The Bodyshop,
Periplus, TV One, Polygon merupakan contoh merek yang diadopsi oleh tipe ini.
2. The Perfomer. Kalangan ini diwakili kalangan profesional serta entrepreneur yang terus berusaha mengekar karier (self-achievement). Relatif tidak mudah puas, bermotivasi tinggi dan cenderung risk-taker. Seringkali melihat peluang sebagai tantangan yang harus dilakoni. Merek-merek seperti C-1000, Smart FM, Metro TV, Telkom Speedy merupakan contoh merek yang diadopsi oleh layer kelas menengah ini.
3. The Expert. Tipe ini diwakili orang yang selalu berupaya menjadi ahli di bidangnya. Memiliki sifat kekeluargaan yang tinggi. Serta menjunjung tinggi norma-norma sosial dan kekeluargaan (traditional values). Merek-merek yang mewakili layer ini seperti Produk unit Link, Garuda Indonesia, Toyota Camri, Tabloid Otomotif.
4. The Climber. Karakter tipe ini sangat economic-oriented. Risk taker dalam karier, serta menilai penghargaan dalam karier itu merupakan hal penting. Umumnya segmen ini terdiri dari karyawan level menengah/supervisor. Layer ini biasanya menggunakan merek-merek seperti Lion Air, Toyota Avanza, majalah Femina, Adira Finance, Majalah Info Franchise, dll.
5. Trend Setter. Konsumen menengah ini berkarakter sedikit jarang bersosialisasi, jarang meng-up-date informasi, tetapi kemampuan finansialnya lumayan tinggi. Keinginan untuk dikagumi teman sebaya (peers) cukup tinggi. Tipe kalangan ini banyak dihuni tipe pekerja yang baru pertama kali "merasakan" bekerja (first Jobber) atau mahasiswa/pelajar yang berasal dari golongan menengah ke atas. Starbucks, iPad/iPhone, Mizone, Majalah Kosmopolitan, Honda Jazz merupakan contoh merek yang diadopsi kelompok ini.
6. The Follower. Tipe ini perilakunya sangat digerakkan oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Ekspresi diri diejawantahkan dalam barang-barang bersifat life-style. Kalangan ini banyak diwakili mahasiswa dan anak-anak SMA. Merek-merek seperti 7 Eleven, Honda Scoopy, Majalah Hai, Samsung Galaxi Tab adalah merek-merek yang akrab di kalangan ini.
7. The Settler. Kelompok ini mapan secara ekonomi dan finansial, karena umumnya kelompok ini berasal dari kelompok pedangang yang sukses. Tetapi dalam pengelolaannya cenderung bersikap konservatif. Kelompok ini biasa terkoneksi dengan merek seperti Dji Sam Soe, Hotel Santika, produk-produk Bank Syariah, Tabloid Nova.
8. The Flower. Tipe ini bisa dikenali dengan kurangnya mengikuti perkembangan teknologi. Menjalani kehidupan mengalir seperti apa adanya. Menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual serta menjadikan keluarga menjadi dunianya. Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Ibu Rumah Tangga mendominasi kelompok menengah tipe ini.
(Courtesy of : http://modalindo.blogspot.com/2012/04/era-kelas-menengah-indonesia.html)
POLA PERILAKU KONSUMSI KELAS MENENGAH
Masyarakat
kelas menengah (middle class) secara
umum memiliki karakteristik dinamis, educated, open minded, dan selalu mengikuti
trend perkembangan gaya hidup (life
Style). Bahkan mereka sering menjadi Trend setter atau kelompok Influencer. Kelas menengah sangat mobile
dan mudah berubah. Mereka dengan
mudah menggeser selera dalam memilih suatu produk maupun jasa, bahkan dalam memilih partai politik maupun pigur calon presiden mereka sangat dinamis. Oleh
karena itu, perusahaan atau institusi yang ingin menggarap kelas ini harus ikut
dinamis dan terus bergerak mengikuti mobilitas mereka. Harus ada penyempurnaan
yang kreatif dan inovatif terhadap
produk yang akan ditawarkan. Dan harus menerapkan strategi marketing yang memiliki
keunggulan komperatif disisi penawaran (price), distribusi, promosi dan tagline atau pesan iklan yang akan disuguhkan harus menarik.
Intinya, campaign media yang dipergunakan untuk menarik perhatian masyarakat kelas menengah harus memiliki strategi dan taktik ber-empathy, edukatif serta SMART : Spescific, Measurable, Attanable, Relevant and Timely, karena kalangan new middle class memiliki karakteristik kritis, otonom dan rasional menentukan pilihan.
Intinya, campaign media yang dipergunakan untuk menarik perhatian masyarakat kelas menengah harus memiliki strategi dan taktik ber-empathy, edukatif serta SMART : Spescific, Measurable, Attanable, Relevant and Timely, karena kalangan new middle class memiliki karakteristik kritis, otonom dan rasional menentukan pilihan.
Kelompok
menengah merupakan masyarakat produktif, berusia muda dan memiliki pekerjaan
yang jelas, pada umumnya sangat interaktif dan mudah bergaul baik melalui media
sosial maupun alat komunikasi seperti handphone. Mempunyai sumber penghasilan relatif
cukup sehingga memiliki daya beli tinggi sebagai potensi pasar penjualan produk
berteknologi tinggi. Oleh karena itu produk teknologi tinggi merupakan produk
yang tepat ditawarkan kepada kelompok ini. Secara psikologis kelas menengah
memiliki perilaku konsumsi berorientasi kepada pemenuhan gaya
hidup, sehingga
memiliki sikap
dan persepsi khusus
terhadap produk bermerek (Branded).
Dalam memilih suatu produk, kalangan menengah umumnya cenderung mempergunakan pertimbangan-pertimbangan :
Pertama, dalam memilih suatu produk
atau jasa pkelas menengah sangat mempertimbangkan nilai, yaitu mengutamakan
produk yang memiliki kualitas yang baik.
Kedua, banyak kalangan menengah
yang tidak terlalu memperhitungkan tinggi atau rendahnya biaya atau harga yang
akan dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhannya,
terutama kalangan menengak atas
dalam prilaku konsumsinya lebih mengutamakan life style daripada harga
yang mesti dibayar.
Ketiga, kemudahan untuk mendapatkan
produk. Karena sangat aktif dan mobil maka mereka sangat butuh dilayani dengan
cepat, sehingga dibutuhkan kemampuan mempercepat atau mendekatkan suatu produk
untuk memenuhi kebutuhannya, misalnya dengan cara home delivery service. Kelasa menengah sebagai konsumen dalam memenuhi
kebutuhannnya tidak menyita waktu yang banyak dan tidak perlu meluangkan waktu
untuk datang ke suatu tempat. Sarana yan tepat dipergunakan dalam hal ini
misalnya online
service dan e-commerce
di internet.
Agar
berhasil menggarap kelas menengah, terutama dalam hal memasarkan suatu produk
atau jasa harus disesuaikan dengan gaya hidup mereka, mencakup tiga aspek, yaitu activity (aktivitas),
interest
(minat), dan opinion
(opini). Kelas menengah umumnya sangat mobile, bergerak dari satu tempat ke
tempat lain, banyak waktu mereka tersita dalam mobilitas ini tetapi mereka
tidak mau ketinggalan informasi atau koneksi, selalu berupaya memperoleh
informasi secara up
to date.
Karena
kalangan menengah banyak menghabiskan waktu dalam perjalanan maka alat promosi
seperti spanduk dan baliho sangat efektif menyasar kelompok ini, karena mereka
dapat melihatnya sambil lalu. Selain outdoor promotion, untuk menyasar kelompok
ini sangat tepat mempergunakan media internet
maupun mobile telekomunication seperti Blackberry Message, disamping
itu, alat yang dapat dipergunakan untuk mencuri perhatia mereka bisa melalui
pameran.
Karena
kelompok menengah sangat sebuk dan tidak banyak memiliki waktu senggang, untuk
menyampaikan pesan dalam kemasan promosi
atau advertising
dapat dilakukan melalui media sosial seperti
facebook atau twitter yang secara inplisit memuat consumer selling, sales promotion,
direct marketing, event.
Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kalangan menengah yang tidak sempat
membaca Koran tetapi disela-sela kesibukannya mencari informasi melalui internet.
Tidak
dapat dihindari bahwa untuk efektik menyasar kelompok menengah ini dibutuhkan
program pemasaran berbentuk Integrated Marketing Communication (IMC), yaitu alat promosi yang terintegrasi atau terpadu dalam alat
komunikasi yang satu tetapi bisa sekaligus menyampaikan pesan dan berkomunikasi
(integrated). Untuk memanfaatkan waktu yang sedikit maka harus dikemas
penyampaian pesan yang singkat, padat dan hanya membutuhkan waktu sedikit
melihatnya.
Pertama,
produknya. Kelas menengah itu sadar akan nilai. Jadi mereka ini berorientasi
pada nilai. Artinya, mereka ini menghendaki produk yang semakin baik. Jadi
bukan yang ala kadarnya. Kalau kelas bawah itu tidak ada pilihan. Jadi yang
sangat ekonomis, kualitasnya seperti apa tidak masalah. Kelas menengah itu
sadar akan nilai, maka mencari yang lebih baik. Lalu ada upaya untuk
meningkatkan penghasilan untuk memenuhi keinginan mereka itu. Ini tentu harus
dijadikan dasar bagi pemasar untuk mengembangkan dan menyempurnakan produknya
menjadi lebih baik.
Kedua,
harga. Sebagian kelas menengah, sebetulnya kelas ini besar ya. Kalau dibuat
gambar, itu sebetulnya ada jenjangnya juga di dalam kelas ini. Ada kelas
menengah atas, ada kelas menengah menengah, ada kelas menengah bawah. Dari
ketiga jenjang itu, yang tidak terlalu berpikir mengenai harga, itu yang kelas
menengah atas. Kalau yang menengah menengah dan menengah bawah ini masih
berpikir tidak terlalu ketat mengenai harga. Sehingga bisa saja, apa harga
ditetapkan lebih tinggi, mereka tidak masalah. Artinya mau mengikuti. Itu
faktor yang kedua.
Ketiga,
kemudahan untuk mendapatkan produk. Kelas menengah itu sangat mobile dan sangat
aktif, sehingga keinginan untuk terpenuhi itu sangat tinggi. Dalam mobilitas
itu, bagaimana pemasar bisa memenuhi keinginan mereka. Tentu saja, ini perlu
upaya-upaya yang sifatnya mendekatkan produknya kepada konsumennya. Misalnya,
sekarang ini home
delivery service kan sudah semakin marak. Artinya, konsumen itu
tidak usah datang, produk itu akan tersampaikan ke tangan konsumen. Ini upaya
mendekatkan, produk itu kepada konsumennya. Bisa juga online service,
konsumen ingin mudah tetap di tempatnya, tapi bisa mendapatkan pelayanan. Yaitu
melalui internet atau e-commerce.
PDIP mencapai 14,8 persen
Partai Gerindra 12,5 persen.
Berdasarkan survei Lembaga Konsultan Riset Alvara terhadap responden yang sama dalam survey tingkat elektabilitas partai politik, lembaga ini mempublikasikan bagaimana tanggapan atau perilaku kelas menengah Indonesia terhadap pigur Presiden Indonesia yang akan datang. Hasil surveu menunjukkan Aburizal Bakrie Ketua Umum Partai Golkar sebagai calon presiden 2014 paling popular di kalangan urban dan kelas menengah, namun, popularitas tersebut tidak sebanding dengan elektabilitasnya.
Ketika dilakukan survei, tanpa disodorkan nama kemudian ditanya siapa saja kandidat yang diketahui, sebanyak 92,4 persen responden menyebut nama Aburizal Bakrie tetapi hanya 6,3 persen yang menilaia Aburizal Bakrie layak memimpin Indonesia. Bahkan hanya 6,2 persen yang bakal memilih Aburizal Bakrie jika menjadi peserta pilpres. Tingginya popularitas Aburizal Bakrie ini karena dia setiap hari muncul di televisi.
Prabowo
Subianto memperoleh tingkat popularitas di
angka 92,4 persen dengan tingkat elektabilitas 17 persen. Megawati
Soekarnoputri memperoleh angka popularitas 82,5 persen dengan tingkat elektabilitasnya 7 persen. Pigur calon presiden
yang memperoleh rasio baik antara popularitas dan elektabilitas adalah Joko
Widodo yang memperoleh angka popularitas sebesar 70,5 persen dan elektabilitas mencapai angka
22,1 persen.
Popularitas tokoh lain, yakni Wiranto, sebesar 77,8 persen dan elektabilitas 4,6 persen, Jusuf Kalla popularitas 69,1 persen dengan elektabilitas 7,4 persen, Dahlan Iskan popularitas 69,1 persen dengan elektabilitas 6,9 persen, Hatta Rajasa popularitas 61,6 persen dan elektabilitas 1 persen, Surya Paloh Popularitas 61,5 persen dan elektabilitas 2 persen.
PARTAI
POLITIK DALAM PERSEPSI KALANGAN MENENGAH
Berdasarkan hasil survei Lembaga
Konsultan Riset Alvara yang dilakukan
dengan wawancara tatap muka terhadap 1.532 responden di kota-kota besar
di Indonesia, yakni Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Medan, Surabaya,
Makasar, Bandung, dan Semarang. Survey
dilaksanakan 15 Juli sampai 23 Agustus 2013 terhadap responden berusia 20-54 tahun dengan tingkat pengeluaran keluarga rata-rata di
atas empat juta rupiah per-bulan.
Responden ini dianggap merupakan
gambaran kalangan kelas menengah Indonesia, dan dapat mewakili perilaku memilih kelas menengah
Indonesia. Alasan hanya kelas menengah
yang diambil sebagai responden karena jumlahnya sangat besar, yakni mencapai
135 juta orang. Selain itu, mereka memiliki pendidikan yang baik, mendapat
akses informasi, serta rasional dalam memilih
Hasil survey ini menunjukkan elektabilitas
PDI Perjuangan dan Partai Gerindra di kalangan urban dan kelas menengah berada
di urutan atas, tetapi elektabilitas kedua parpol itu masih di bawah swing voters. Elektabilitas
kedua partai ini :
Kesimpulan yang bisa ditarik dari
survey ini, PDIP dan Gerindra bisa diterima oleh pemilih kelompok menengah
perkotaan. PDIP banyak didukung oleh pemilih di kelas menengah berusia 20-24
tahun dan merata di semua profesi. Adapun Gerindra paling banyak didukung
kelompok usia 25-29 tahun.
Tingkat elektabilitas partai yang
lain seperti berikut :
Partai
Golkar 8,4 persen
Partai
Demokrat 7,4 persen
Partai
Nasdem 4,6 persen
Partai
Hanura 3,8 persen
Partai
keadilan Sejahtera 3,4 persen
Partai
Persatuan Pembangunan 2,2 persen
Partai
Amanat Nasional 2,1 persen
Partai
Kebangkitan Bangsa 1,7 persen
Partai
Bulan Bintang 0,1 persen
Partai
Keadilan dan Persatuan Indonesia 0,1 persen
Pemilih kelas menengah urban masih
banyak yang ragu untuk menentukan partai mana yang akan dipilih, pemilih yang
belum menentukan pilihan partai (Swing Voter) mencapai 39 persen. Rendahnya elektabilitas
partai berbasis islam karena dianggap tidak memiliki tokoh popular, dan mayoritas responden lebih
tertarik partai atau ideologi
nasionalis.
" Kelompok New Middle Class, kelas menengah Indonesia, Tidak Tertarik Terhadap Sentimen Primordialisme (SARA). Tetapi Lebih Memilih Paham atau Idiologi Nasionalisme "
Dan yang mengagetkan elektabilitas partai demokrat relative masih
tinggi padahal sedang diterpa banyak masalah kasus korupsi, perolehan ini
dipengaruhi masih adanya faktor ketokohan Presiden SBY dan tanggapan masyarakat
kelas menengah yang masih memberi apresiasi terhadap kinerja pemerintahan SBY,
hal ini wajar karena yang bisa menikmati kondisi pemerintahan SBY baik secara
ekonomi dan sosial adalah kelompok menengah.
PIGUR PRESIDEN DALAM KACA MATA KALANGAN MENENGAH
Berdasarkan survei Lembaga Konsultan Riset Alvara terhadap responden yang sama dalam survey tingkat elektabilitas partai politik, lembaga ini mempublikasikan bagaimana tanggapan atau perilaku kelas menengah Indonesia terhadap pigur Presiden Indonesia yang akan datang. Hasil surveu menunjukkan Aburizal Bakrie Ketua Umum Partai Golkar sebagai calon presiden 2014 paling popular di kalangan urban dan kelas menengah, namun, popularitas tersebut tidak sebanding dengan elektabilitasnya.
Ketika dilakukan survei, tanpa disodorkan nama kemudian ditanya siapa saja kandidat yang diketahui, sebanyak 92,4 persen responden menyebut nama Aburizal Bakrie tetapi hanya 6,3 persen yang menilaia Aburizal Bakrie layak memimpin Indonesia. Bahkan hanya 6,2 persen yang bakal memilih Aburizal Bakrie jika menjadi peserta pilpres. Tingginya popularitas Aburizal Bakrie ini karena dia setiap hari muncul di televisi.
" Memperoleh Popularitas Tinggi, Seorang Pigur atau Kandidat Dalam Pemilu Tidak Otomatis akan memperoleh tingkat elektabilitas tinggi "
Popularitas tokoh lain, yakni Wiranto, sebesar 77,8 persen dan elektabilitas 4,6 persen, Jusuf Kalla popularitas 69,1 persen dengan elektabilitas 7,4 persen, Dahlan Iskan popularitas 69,1 persen dengan elektabilitas 6,9 persen, Hatta Rajasa popularitas 61,6 persen dan elektabilitas 1 persen, Surya Paloh Popularitas 61,5 persen dan elektabilitas 2 persen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar